Saturday, March 4, 2017

[ONESHOOT] Falling Tears

Title: Falling Tears
Genre: Romance, Hurt, Sad
Cast: Baekhyun, Haerin, others.
Lenght: 1652 words

Summary: 
"Jika kamu sedih, menangislah…
Datanglah ke sisiku…
Jika kamu sakit di mana pun kamu berada…
Datanglah ke sisiku…

Maka aku akan menghapus tetesan air matamu (tears)…"

----

Aku menatap cermin dihadapanku. Raut kelelahan terpampang jelas dibayangan cermin itu. Hari ini, aku baru saja menyelesaikan syuting dramaku. Rasa nyeri terus menyerang kepalaku. Namun, sesuatu yang berdering dari sakuku mengalihkan rasa nyeri itu.

Aku menatap ponsel ditanganku, menarik sudut bibirku membentuk sebuah senyuman. Sekarang aku tahu, semakin hari aku semakin mencintainya. Hubungan kami harus tersembunyi dari media. Baekhyun adalah aktor papan atas dan aku hanya seorang aktris yang baru saja merinti karirku.

“Kau berhubungan lagi dengannya ?” tanya Diandra manajerku dengan geram. Giginya gemeletuk dan matanya berkilat-kilat.

Aku mengangguk pasti. Kufikir tak ada kata-kata yang bisa menjelaskan ketergantunganku yang amat sangat padanya. Bagai candu yang selalu membuatku kesakitan jika tak di dekatnya. Siapa yang harus disalahkan dalam hal ini?

“Apa kau tak merasa jika ia sedang membodohimu? Maksudku, apakah tak aneh jika ia memintamu go public saat karirnya sedang terpuruk?” Diandra menghampiriku dan menatap kedua mataku tajam.

Aku menggeleng cepat. Baekhyun  tak mungkin memanfaatkanku! Karena dia mencintaiku.
Malam ini, Aku dan Baekhyun menghabiskan waktu bersama menghilang sekejap dari kerlapnya dunia hiburan. Keheningan yang hanya dihiasi bunyi hujan tiba-tiba dipecahkan bunyi decit yang keras. Mereka berdua serentak menoleh dan melihat dua mobil sedan hitam berhenti  mendadak di dekat mereka. Dua pria keluar dari masing-masing mobil, tanpa payung,  dan menatap lurus ke arah mereka. Haerin  mengerjap dan rasa panik langsung merayapi dirinya.
“Siapa kalian?” tanya Baekhyun kepada orang-orang berpakaian serbahitam itu.
“Pasti menyenangkan menghajar aktris papan atas” ucap mereka.
Aku tidak bisa melepaskan cengkeramannya di lengan Baekhyun. Pria yang berdiri di  hadapanku bersama empat orang anak buahnya itu terlihat berbahaya. Apa yang  diinginkannya?
Tiba-tiba si tukang pukul kembali melayangkan tendangan ke punggung Baekhyun.  Aku memekik. Baekhyun sudah tidak bertenaga. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Darah menetes dari pipi dan bibirnya.
Baekhyun tetap memelukku, menahanku di tanah dengan tubuhnya sementara ia menerima setiap pukulan yang diarahkan kepadanya. Aku hanya bisa terisak  memanggil namanya.
“Aku rela pergi saat ini juga, asal kau selalu bahagia… Aku tidak mungkin membiarkan siapapun menyakitimu…” Kata-kata Baekhyun membuatku semakin terisak dan memelukkanya lebih erat. Tiba-tiba semunya jadi gelap.
Esoknya, Aku menangis tersedu-sedu melihat Baekhyun  yang kini tergolek lemah di rumah sakit. Aku sudah dihujat oleh ibu dan Sora kakak Baekhyun  karena menyebabkan Baekhyun  mengalami kemalangan seperti ini.

Ibu Baekhyun  menjambak rambutku di depan koridor rumah sakit hingga semua orang menjadikan kami bahan tontonan. Dan beberapa fans Baekhyun melempariku dengan apa saja.

Namun, mataku tertuju pada sosok tampan itu. Dia berjalan mendekatiku dengan masih menggunakan seragam rumah sakitnya, masih kulihat jelas perban putih yang menutupi kepalanya dengan tertatih ia menghampiriku.

Dia memelukku erat melindungiku dibidang kokohnya, kemudian dengan pelan dia menggiringku menuju kamarnya. Dia tetap memelukku melindungiku dari lemparan-lemparan batu dari fansnya.

“Bagaimana kalau kau buta terkena pecahan kaca?” bentakku dengan tersedu. Aku marah karena aku terlalu takut untuk kehilangannya.

“Kau mengkhawatirkanku?” tanyanya sambil terus tersenyum mencubit kedua pipiku gemas.

“Bodoh…..” Aku hanya bisa menangis dalam dekapannya dan sesekali memukul dadanya pelan. Mengapa ia mau berkorban untukku??? Sekarang aku tahu bukan hanya aku yang sangat mencintainya. Namun, ternyata ia juga sangat mencintaiku.

Hari ini seperti biasa, aku menuju ruang managerku. Kupikir ini akan menjadi hari yang indah, namun wajah gusar yang kutemui saat baru saja membuka pintu menghancurkan semuanya dalam sekejap. Manejerku menyuruhku menemui ayah Baekhyun.

Kulangkahkan kakiku ragu. Dan akupun terpaku setelah langkah ke limaku. Kulihat ayah Baekhyun  duduk tenang bersila di depan sebuah meja yang pendek.

Aku mendekat lalu duduk dengan rasa tak nyaman di depannya.

“Lepaskan dia, kumohon..” sambil meneteskan air mata, Ayah Baekhyun  bersujud di depanku.

Aku membelalakkan mataku lalu menelan ludah karena tenggorokanku tercekat. Baekhyun, apa yang harus kulakukan sekarang?

“Demi anakku, aku rela melakukan apapun…” tambahnya  dalam posisi yang masih bersujud lemah.

Sekarang aku tahu, seberapa besar kami berusaha kami memang tidak akan bisa disatukan. Karena sampai kapanpun perbedaan itu tetap selalu ada.

Aku mengusap wajahku kasar. Menatap sosok gadis dengan mata bengkak dihadapanku. Gadis itu sama seperti diriku, aku terkekeh geli. Karena gadis itu ternyata bayanganku sendiri.

Hari ini, mungkin adalah awal yang tepat bagi kami. Aku memang harus mengakhirinya, sebelum salah satu dari kami terluka. Ah, lebih tepatnya sebelum aku semakin jatuh cinta dengannya hingga aku tidak bisa melepasnya.

“Aku pikir, lebih baik kita berpisah…” gumamku akhirnya. Matanya membelalak tak percaya.

“apa yang kau katakan? Apa ayahku mengganggumu?!” bentaknya sambil menggenggam tanganku hingga memerah.

Air mataku sedikit demi sedikit akhirnya keluar juga meski kutahan sambil menggigit bibir hingga bibirku nyaris berdarah. Air mata bodoh!

“Lepaskan Baekhyun .. tanganku perih!” aku memberontak lemah sambil menyembunyikan tangisku.

“Haerin , kau kenapa?” tanyanya dengan mata berkaca-kaca. Aku langsung menunduk ketika ia lebih dekat menatapku.

“Cinta tak harus memiliki..” kuberanikan diri menatap matanya dengan tajam. Matanya kini melunak dan genggaman tangannya pun akhirnya lepas.

“Itu hanya kata-kata orang yang menyerah!” aku memutar badanku membelakanginya lalu mengerjap untuk menghilangkan air mata yang masih terbendung di mataku.

Setelah kukumpulkan semua keberanian yang kupunya, aku pun kembali menatapnya.

“Apa salah kalau aku menyerah?” tanyaku dengan suara parau.

“Tolonglah bertahan sebentar lagi..” pintanya sambil menangis. Ya Tuhan, aku bahkan tak sanggup melihat air matanya.

Ini memang sudah beberapa kali aku membuat Baekhyun  menangis, tapi ini yang paling menyakitkan. Dalam benakku tak kutemukan jalan untuk kembali lagi padanya. Ini benar-benar akan akhir. Dan memang akan menjadi akhir.

“Mungkin mudah bagimu berkata seperti itu karena kau adalah pihak yang selalu dibenarkan, kau tak tahu seberapa lelahnya aku dihujat oleh semua orang..” Ia memelukku sangat hangat. Hangat, hingga aku sangat enggan melepasnya. Air mataku kembali membasahi bagian bahunya.

“Baekhyun hiduplah bahagia… Jangan buang air matamu hanya untukku” bisikku pelan lalu melangkah pergi meninggalkannya.

Hari terakhir aku berpisah dengannya, itulah penyesalan terbesarku. Ternyata semuanya benar, kami memang tidak bisa dan tidak akan pernah bisa untuk bersama. Berita yang baru saja kudengar meruntuhkan segalanya.

Kini, kutatap nanar kini gundukkan tanah besar yang ada di hadapanku. Kulihat wajah cerianya dalam sebuah bingkai foto.

“Baekhyun …” hanya itu bisikkan lirih yang keluar seiring air mata penyesalan di pipiku.

Kuingat saat hari pertama kau berada di sini. Dengan meratap ibu Baekhyun  terus menjambak rambutku. Aku tak melawan, berkata pun aku tak mampu. Hanya air mata dalam diam yang keluar sebagai jawaban.

“Kalau bukan karena kau! Baekhyun  takkan bunuh diri seperti ini! Kenapa kau harus memberinya cinta jika pada akhirnya kau pergi meninggalkannya? Kau pembunuh anakku” tangisan tersedu terus saja mengalun dari bibir ibu Baekhyun  yang mengering.

Aku bungkam dan diam-diam menangis. Aku terjatuh saat Ibu Baekhyun makin giat menjambak rambutku hingga menimbulkan kengiluan di kulit kepalaku. Di sela jari ibu Baekhyun kulihat ada puluhan helai rambutku yang ia dapatkan dengan kasar.

Kulirik ayah Baekhyun  yang masih meratap dan menggaruk-garuk pusara Baekhyun  yang terpajang gagah. Sora tak henti-hentinya menarik ayahnya sambil juga menangis hingga wajah manisnya kini memerah dan bengkak.

“Apa semua ini salahku? Katakan Baekhyun. Katakan sekarang juga? Tapi, kenapa kau tak menjawabku” batinku.

Aku mendongak pada ibu Baekhyun , lalu menatapnya dengan datar.
“Semua memang salah ku… Dari awal aku hanya bisa membuatnya menangis.” lalu berlalu pergi meninggalkan Baekhyun yang sudah tertidur lelap selamanya.

Aku memasuki apartemenku dengan langkah gontai. Kuambil ponsel yang kutitipkan pada Diandra tadi, kunyalakan dan muncul 23 pesan dan 12 pesan suara. Diandra bilang ia mematikan ponselku karena Baekhyun  terus saja menghubungiku.

Kubaca pesan itu satu persatu,
Haerin .. kembalilah..
Haerin , cepatlah kesini. Aku menunggumu..
Mengapa belum datang? Aku masih menunggumu…
Aku kesepian, sekarang siapa yang akan memelukku lagi?

Aku mendengus membaca semua pesan Baekhyun, isinya berinti sama dan terdengar seperti rengekkan anak kecil pada ibunya.

Kudekatkan ponsel itu ke telingaku hendak mendengarkan pesan suara yang Baekhyun  kirim kepadaku.

---Di kehidupan ini, aku rasa kisah kita terlalu sulit. Semua menentang kita untuk bersama. Aku yakin, aku akan memiliki kehidupan selanjutnya. Dan aku ingin di kehidupan selanjutnya kita bisa bersama karena cinta dan menjalani cinta bermakna yang sederhana. Aku mencintaimu dan Tidak akan pernah menyesal karena sudah mencintaimu. Dan aku tidak akan pernah menyesal karena sudah membuang semua air mataku untukmu---

Selanjutnya yang kulakukan hanya meringkuk dalam kamar. Dunia seperti hilang saat ia pergi meninggalkanku. Akhirnya, aku memutuskan untuk pergi menemuinya. Kuletakkan sebuket mawar kuning di depan pusara Baekhyun , air mataku kembali mengucur deras.

Aku tak pernah mengira Baekhyun  akan ditemukan begitu mengenaskan di apartementnya. ia sendiri, kesakitan menahan perih di pergelangan tangannya yang teriris. Meringkuk kesepian di lantai dingin dengan darah mongering dan badan terbujur kaku tanpa seorangpun yang menemaninya.

Berita di media begitu gencar menyebutkan jika aku penyebab kematian. Ayah Baekhyun menulis jika aku mencampakkannya setelah karirnya yang hancur. Aku begitu marah saat membaca berita itu, siapa yang menyebabkan aku mencampakkannya? Apa ia tak sadar?

Selang beberapa hari setelah berita itu beredar. Agencyku sepakat mendepakku dari grup. Aku dikeluarkan dan mendapatkan banyak antifans yang tak segan membunuhku jika ada kesempatan.

Kini, aku menyembunyikan diri di sini. Tempat dimana Baekhyun dimakamkan. Tak membawa apapun selain baju yang kini melekat di badan. Aku sering berhalusinasi melihat Baekhyun  di sampingku, memberikanku selimut saat aku mulai menggigil, terus bernyanyi sepanjang malam untuk menemaniku. Aku merasa jika aku mulai gila.

“Tunggulah aku sebentar lagi, aku yakin aku akan cepat pergi ke sisimu..” kini bibirku yang kaku mulai bisa bergerak meskipun sangat sulit.

Kupeluk tanah merah yang ditumbuhi rumput lembut di atasnya. Air mataku terus saja keluar tanpa bisa kubendung. Sejauh yang aku ingat, aku sudah 2 hari tersedu tanpa henti di sini dengan penyesalan yang sangat besar dan menyesakkan dada.

Baekhyun, seandainya kau tahu. Aku bukan apa-apa tanpamu. Aku merindukan saat kau mengusap lembut kepalaku. Saat kau menggenggam kedua tanganku. Aku selalu mengangis saat aku tahu kau sudah tidak ada disampingku.

Bukankah kau berjanji untuk selalu menghapus air mataku? Kau pembohong, aku membencimu karena kau membuatku benar-benar tidak bisa membencimu.

Hari ini sekali lagi
Hatiku menangis
Jika aku hidup lagi
jika aku di lahirkan lagi dan lagi
aku tidak akan bisa hidup tanpamu


“Aku mencintaimu Baekhyun dan akan selamanya mencintaimu…” 

---END---
Load disqus comments

0 comments